Senin, 22 April 2013

Makalah tentang Prilaku Terpuji


KATA PENGANTAR

Pertama-tama perkenankanlah kami selaku penyusun makalah ini mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul Perilaku Terpuji.
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memahami aspek pendidikan agama islam terutama untuk perilaku terpuji. Dengan mempelajari isi dari makalah ini diharapkan generasi muda bangsa mampu menjadi islam yang sesungguhnya, saleh, beriman kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ucapan terima kasih dan puji syukur kami sampaikan kepada Allah dan semua pihak yang telah membantu kelancaran, memberikan masukan serta ide-ide untuk menyusun makalah ini.
Kami selaku penyusun telah berusaha sebaik mungkin untuk menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila terdapat kekurangan maupun kesalahan. Oleh karena itu kami memohon saran serta komentar yang dapat kami jadikan motivasi untuk menyempurnakan pedoman dimasa yang akan datang.
                                                                  Sungai Rengas, ………………… 2012
                                                                                         Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................         i
DAFTAR ISI ....................................................................................................         ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ...................................................................................        1
1.2  Rumusan Masalah ...............................................................................        2
1.3  Tujuan ................................................................................................        2

BAB II PEMBAHASAN  
2.1    Tobat  ...............................................................................................        3
2.2    Raja’ (Mengharap Keridahaan Allah) .................................................        5

III PENUTUP
3.1    Kesimpulan .......................................................................................        8
3.2    Saran ................................................................................................        8

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................        9

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengertian Adab menurut bahasa ialah kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. Adapun menurut M. Sastra Praja, adab yaitu tata cara hidup, penghalusan atau kemuliaan kebudayaan manusia. 
Sedangkan menurut istilah, adab ialah:  “Adab ialah suatu ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah”. 
Dengan demikian dapatlah diambil pengertian bahwa adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang, terhormat atau tercelanya nilai seseorang. Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa mulia dan terhormat di sisi Allah dan manusia apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang baik.
Seseorang akan menjadi orang yang beradab dengan baik apabila ia mampu menempatkan dirinya pada sifat kehambaan yang hakiki. Tidak merasa sombong dan tinggi hati dan selalu ingat bahwa apa yang ada di dalam dirinya adalah pemberian dari Allah swt. Sifat-sifat tersebut telah dimiliki Rasulullah saw. Secara utuh dan sempurna. Oleh sebab itu Allah swt. memuji beliau dengan firmannya yang artinya:
Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan akhlak hendaknya didasarkan atas mujahadah (ketekunan) dan latihan jiwa. Mujahadah dan riyadhah-nafsiyah (ketekunan dan latihan kejiwaan) menurut al-Ghazali ialah membebani jiwa dengan amal-amal perbuatan yang ditujukan kepada khuluk yang baik, sebagaimana kata beliau: “Barangsiapa yang ingin dirinya mempunyai akhlak pemurah, maka ia harus melatih diri untuk melakukan perbuatan-perbuatan pemurah, yakni dermawan, dan gemar bersedekah. Jika beramal bersedekah dilakukan secara istiqamah, maka akan jadi kebiasaan”.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan latar belakang dari permasalahan sebagai berikut :
  • Apa yang di maksud dengan adab atau sopan santun ?
  • Apa saja contoh dan cara menumbuhkan adab berpakaian, berhias, perjalan, bertamu dan menerima tamu ?

1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
  • Sebagai bentuk penyelesaian tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
  • Untuk menjelaskan macam-macam perilaku terpuji yang dianjurkan dan di ridhoi Allah SWT serta penerapannya di kehidupan sehari-hari.
  • Sarana informasi tentang apa, bagaimana penerapan dan contoh dari perilaku terpuji.
                                         

BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Tobat
Hawa nafsu merupakan sesuatu yang melekat dalam diri setiap manusia. Sering kali hawa nafsu membawa seseorang cenderung ke arah keburukan sehingga setiap orang harus mampu mengendalikanya. Hawa nafsu dapat membawa kebaikan selama ia mampu diarahkan, tetapi akan menjermuskan pada kejahatan bila dibiarkan tanpa arah yang jelas.
Banyak orang yang meninggalkan petunjuk yang baik dan menurut kemauan hawa nafsunya dan menjadikannya sebagai tuhan yang ditaatinya selain Allah. Betapa tidak, karena apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsu tersebut dia akan segera dilakukan tanpa malu dan segan sehingga tidak takut-takut kepada Allah dan semena-mena kepada sesamanya serta tidak memikirkan akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya.
Orang yang menurutkan hawa nafsunya sangat demurkai Allah dan disamakan dosa dan bahayanya dengan orang-orang yang menyembah berhala dan memuja benda-benda yang ada di bumi.
Nafsu mengandung ketertarikan syahwat untuk mencari kelezatan jasmani dan rohani sehingga mudah menerima godaan serta bujukan setan. Nafsu manusia ada 3 macam, yaitu sebagai berikut :
  1. Nafsu asmarah yaitu nafsu yang menyuruh kepada keburukan.
  2. Nafsu lawamah yaitu nafsu yang suka mencela atau mengecam.
  3. Nafsu mutma’innah yaitu nafsu yang benang tentang dan tenteram.
Apabila nafsu mansuai mengikuti syahwatnya, maka itulah yang disebut nafsu amarah. Apabila nafsu itu telah melakukan perbuatan buruk, maka hadirlah nafsu lawamah yang mencela dan mencaci perbuatan buruk yang dilakukannya karena mengikuti nafsu syahwatnya.
Berikut ini merupakan beberapa perilaku yang dapat melatih diri kita agar mampu bersikap mengelikan diri.
1.      Tidak suka mengolok-olok dan berburuk sangka terhadap orang lain.
2.      Tidak dan dengki.
3.      Tidak sembong.
4.      Tidak kikir dan pelit.
5.      Tidak tamak
6.      Tidak memfitnah.
7.      Tidak melakukan kejahatan
8.      Ikhlas
9.      Sabar
10.  Suka berkorban
11.  Pandai bersyukur
12.  Mau bertobat dan mengadakan perbaikan
13.  Mampu mengendalikan hawa nafsu.
Tobat adalah proses menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak melakukannya kembali atau permohonan ampun kepada Allah SWT. Atas kesalahan (kekhilafan) dan atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya.
Kesalahan atau kekhilafan yang dilakukan terhadap orang lain dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
1.            Tidak memuliakan anak yatim piatu, tidak mengajurkan dan memberi makan orang miskin, memakan harta dengan cara mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan mencintai harta berlebihan.
2.            Bakhil, merasa tidak cukup, dan mendustakan pahala yang baik.
3.            Mengumpat dan mencela.
4.            Mengumpat, dan mencela.
5.            Tidak melaksanakan rukun islam, terutama mendirikan sholat.

2.2    Raja’ (Mengharap Keridaan Allah)
Jalan yang hak dalam menggapai rida Allah antara lain melalui orang tua atau birrul wiildan Birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua adalah salah sat umasalah yang penting dalam Islam. Didalam Al-Qur’an setalah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya Allah SWT. Memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.
Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan pahalanya apabila kita melaksanakannya sebagai berikut :
1.      Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama dengan dasar antaranya yaitu hadist Nabi SAW. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Masud, “Aku bertanya kepada Nabi SAW, tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah. Nabi SAW, menjawab, pertama salat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan salat di awal waktunya), kedua, berbakti kepada kedua orang tua, dan ketiga, jihad di jalan Allah.”
2.      Ridha Allah tergantung kepada keridaan orang tua. Dalam hadist yang diriwatkan oleh Bukhori dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim, dan At Tirmizi. Dari Abdillah bin Amr dikatanan Rasulullah SAW, “Rida Allah tergantung kepada Ridha kedua orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan Allah.”
3.      Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu melalu cara meramal soleh.
4.      Dengan bersilaturrahmi kepada orang tua, seseorang akan diluaskan rezeki dan diperpanjang umurnya.
5.      Balasan dari perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke surga oleh Allah SWT. Selain itu, jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannnya dari berbagai malapetaka.
Bentuk-bentuk berbakti kepada orang tua, antara lain dapat dilakukan melalui cara berikut ini :
  1. Begaul kepada keduanya dengan cara yang baik.
  2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut atau berbicara dengan perkataan yang mulia kepada orang tua.
  3. Tawaduk (rendah hati) atau tidak boleh bersikap sombong karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan orang tua kita.
  4. Memberi infak atau sedekah kepada kedua otang tua.
  5. Mendoakan kedua orang tua kita.
Apabila kedua orang tua telah meninggal, maka yang harus kita lakukan adalah meminta ampun bagi mereka kepada Allah SWT. Dan meminta ampun dengan tobat nasuha apabila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, kemudian membayarkan hutang-hutangnya, selanjutnya melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syarit, dan menyambung silaturrahmi kepada teman atau kerabat mereka.
Rosulullah SAW. Menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan yang paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, mempermudah rezeki, dan menjadi jembatan menuju surga. Oleh karena itu, sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan orang tuanya sehingga menyebabkan dia tidak masuk surga.

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dalam kehidupan bermasyarakat mengenai tata krama, sopan santun atau adab merupakan masalah penting karena manusia adalah makhluk berakal dan berbudaya.
Macam-macam sopan santun atau adab, diantaranya adalah berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu.
Allah menyukai orang-orang yang berperilaku terpuji, maka dari itu kita dituntut agar dapat terus berperilaku terpuji.

3.2  Saran
Perilaku terpuji merupakan perilaku yang disukai Allah SWT, untuk dapat menjalankan perilaku terpuji kita harus lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan ikhlas menjalaninya semata-mata karena Allah SWT. Siapa mereka yang mengingikan hidup bahagia dunia-akhirat harus bisa berperilaku terpuji.

DAFTAR PUSTAKA

http://menatap-ilmu.blogspot.com/2011/07/pengertian-adab.html